Rafflesia Arnoldii (Padma Raksasa)

Padma raksasa (Rafflesia arnoldii) merupakan tumbuhan parasit obligat yang terkenal karena memiliki bunga berukuran sangat besar, bahkan merupakan bunga terbesar di dunia. Ia tumbuh di jaringan tumbuhan merambat (liana) Tetrastigma dan tidak memiliki daun sehingga tidak mampu berfotosintesis. Tumbuhan ini endemik di Pulau Sumatera, terutama bagian selatan (Bengkulu, Jambi, dan Sumatera Selatan). Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan daerah konservasi utama spesies ini. Jenis ini, bersama-sama dengan anggota genus Rafflesia yang lainnya, terancam statusnya akibat penggundulan hutan yang dahsyat. Di Pulau Jawa tumbuh hanya satu jenis patma parasit, Rafflesia patma.

Bunga merupakan parasit tidak berakar, tidak berdaun, dan tidak bertangkai. Diameter bunga ketika sedang mekar bisa mencapai 1 meter dengan berat sekitar 11 kilogram. Bunga menghisap unsur anorganik dan organik dari tanaman inang Tetrastigma. Satu-satunya bagian yang bisa disebut sebagai “tanaman” adalah jaringan yang tumbuh di tumbuhan merambat Tetrastigma. Bunga mempunyai lima daun mahkota yang mengelilingi bagian yang terlihat seperti mulut gentong. Di dasar bunga terdapat bagian seperti piringan berduri, berisi benang sari atau putik bergantung pada jenis kelamin bunga, jantan atau betina. Hewan penyerbuk adalah lalat yang tertarik dengan bau busuk yang dikeluarkan bunga. Bunga hanya berumur sekitar satu minggu (5-7 hari) dan setelah itu layu dan mati. Presentase pembuahan sangat kecil, karena bunga jantan dan bunga betina sangat jarang bisa mekar bersamaan dalam satu minggu, itu pun kalau ada lalat yang datang membuahi.

Iklan

Pohon Paling Besar di Dunia

Salah satu dari pohon-pohon paling tinggi di dunia dari jenis Giant Sequoia ini memiliki ketinggian mencapai 85 meter. Umurnya diperkirakan antara 2200 hingga 2700 tahun. Pohon ini diberi nama “Jenderal Sherman”, diperkirakan bukan hanya merupakan salah satu yang tertinggi , tapi juga merupakan jenis Sequoia yang terbesar dalam hal volume-nya. Di tahun 2002 pohon ini pernah terukur volumenya yang sebesar 1487 meter kubik.

Pohon Sherman ini berlokasi di Taman Nasional Sequoia di Visalia, California, dinamakan demikian diambil dari nama seorang veteran perang sipil Amerika Jendral William Tecumseh Sherman. James Wolverton seorang Letnan pada kavaleri Indiana ke-9 di bawah pimpinan Sherman menamakan pohon ini dengan nama bos-nya pada tahun 1879. Pohon ini sebenarnya sudah dianugerahi gelar sebagai yang terbesar sejak tahun 1931 dilihat dari faktor volume-nya.

Diukur dari dimensinya, pohon Sherman ini mengindikasikan menjadi semakin besar tiap tahunnya. Diameternya 1,4 meter di atas tanah adalah 7,7 meter, diameter 18 meter di atas tanah adalah 5,3 meter, diameter 55 meter di atas tanah adalah 4,3 meter, dan ketinggian dahan pertama dari atas tanah adalah sekitar 40 meter.

Yang menarik, dahan terbesarnya patah pada tahun 2006. Bentuknya seperti huruf “L” menghunjam dari kira-kira seperempat ketinggian pohon. Dahan ini mempunyai diameter 2 meter dengan panjang 30 meter dan menghancurkan pagar yang dibuat di sekelilingnya. Meski demikian tetap saja pohon ini masih menjadi makhluk hidup terbesar di muka bumi yang masih hidup.

Whale Shark (Hiu Geger Lintang)

Whale Shark, Rhincodon Typus adalah hiu terbesar di dunia. Meskipun besar, hiu paus (Whale Shark) ini juga bukanlah pemangsa, mereka adalah hiu yang bergerak lambat yang hanya memakan phytoplankton atau binatang yang sangat kecil yang hidup di laut.

Hiu paus ini dapat hidup sehingga 41 kaki dan berat hingga 15 ton. Hiu paus ini sama seperti hiu lainnya yang dapat di temukan di sekitar laut khatulistiwa dan perairan yang hangat. Spesies yang berasal dari kehidupan 60 juta tahun yang lalu ini mampu hidup hingga 70 tahun lamanya.

Penyu Raksasa

Banyak yang belum mengetahui bahwa di Indonesia memiliki tempat peneluran penyu yang terbesar di Dunia, kenapa dikatakan sebagai tempat peneluran terbessar didunia?? karena tempat ini memiliki garis pantai terpanjang dan paling panyak dikunjungi oleh berbagai jenis penyu yang ada di Dunia sampai saat ini. Ironisnya sudah banyak turis dan peneliti asing datang berkunjung ketempat ini namun masyarakat kita sendiri belum banyak yg mengetahuinya.

Nah tempat ini bernama pantai Jamursba Medi yang terletak di Kawasan Papua Barat kabupaten Tambrauw, tepatnya di daerah kepala burung Papua.

Yang menjadikan tempat ini sangat istimewa adalah jumlah penyu yang datang untuk bertelur sangat banyak tiap tahunya, dan juga yang paling mendominasi adalah jenis Penyu Belimbing(Dermochelys coriacea) yang juga merupakan Penyu terbesar dari 7 jenis yang da di Dunia.

Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 – 73 hari.

Tidak banyak informasi yang diketahui tentang Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) karena hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk bermigrasi menjelajahi samudera.

Namun penelitian menggunakan satelit transmisi oleh WWF Indonesia di Jamursba Medi, Papua, bekerjasama dengan lembaga penelitian internasional NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), belum lama ini berhasil menyibak rahasia pengembaraan hewan langka tersebut.

Sepuluh ekor Penyu Belimbing yang dipasangi transmitter dipunggungnya dan dilepas dari pantai Jamursba Medi, Papua, pada Juli 2003 lalu, menurut pantauan satelit, kini salah satunya berada di Pantai Barat Amerika Serikat, tepatnya di Monteray Bay, sekitar 25 km dari Golden Bridge, San Fransisco.

Ini berarti, Penyu Belimbing tersebut telah mengarungi Samudera Pasifik dan menempuh jarak sekitar 6000 mil dari habitat asalnya di Papua dalam jangka waktu lebih dari satu tahun!

Dibandingkan penyu lainnya, Penyu Belimbing memiliki tingkat migrasi paling tinggi. Kenyataan bahwa mereka gemar bermigrasi melewati kawasan yang produktif untuk kegiatan perikanan terutama di Pasifik, membuat jenis ini beresiko tinggi tertangkap rawai nelayan tradisional maupun kapal ikan besar.

Nah, dengan menggunakan teknologi satelit, para peneliti dapat mengidentifikasi jalur migrasi Penyu Belimbing, yang hasilnya bisa dipakai sebagai acuan untuk menyusun langkah-langkah perlindungan wilayah jelajah (home range) jenis penyu tertua itu.

Penyu Belimbing – disebut juga Leatherbacks – dilindungi sebagaimana diatur dalam CITES (Convention on International Trade of Endangered Species) Appendix 1. Saat ini diperkirakan hanya sekitar 2.300 penyu betina dewasa yang tersisa diseluruh Samudera Pasifik.

Jamursba Medi, yang terletak di pantai utara Kepala Burung Papua merupakan salah satu tempat peteluran utama bagi Penyu Belimbing. Hanya ada dua tempat yang masih menyimpan stok Penyu Belimbing di Samudera Pasifik, yaitu di Pasifik Utara termasuk di pantai-pantai Meksiko, Nikaragua, dan Costa Rica, dan di Pasifik Barat yakni di pantai-pantai Kepulauan Solomon, Vanuatu, Malaysia dan Papua (termasuk juga Papua Nugini).

Dengan semakin menurunnya populasi penyu belimbing di daerah peteluran di Malaysia dan Meksiko, Papua otomatis menjadi daerah peteluran terakhir sekaligus terbesar yang tersisa di seluruh Samudera Pasifik.

Hewan unik

Misteri kehidupan Penyu Belimbing sebenarnya telah lama menarik minat para peneliti dunia. Semula, para ilmuwan menduga sebagian besar Penyu Belimbing yang ditemukan menepi di pantai California atau yang tertangkap rawai nelayan di Hawaii, berasal dari Pasifik Utara atau tepatnya dari pantai peteluran Meksiko. Akan tetapi analisis DNA menunjukkan bahwa penyu-penyu tersebut berasal dari Pasifik Barat, yaitu dari pantai peteluran di Papua dan sekitarnya.

Hewan yang beratnya bisa mencapai 600-900 kg, dan merupakan salah satu reptil terbesar itu memang menyimpan rahasia pengembaraan yang unik. Dimulai dari tukik yang baru menetas dengan berat kurang dari 200 gram, penyu kecil tersebut berenang ke laut lepas dan baru kembali ke darat setelah berat badannya mencapai sekitar 600 kilogram, hanya untuk bertelur! Bayangkan, betapa panjang masa yang dihabiskannya menjelajahi laut.

Hanya penyu betina dewasa yang ’mampir’ kedaratan selama sekitar tiga jam dalam setiap masa bertelur untuk meletakkan 60-120 telurnya, lalu kembali ke laut, dan naik lagi ke daratan untuk bertelur 2-3 tahun kemudian.

Sayangnya, dari 1.000 telur Penyu Belimbing yang menetas, hanya satu hingga lima ekor yang hidup menjadi dewasa hingga puluhan tahun. Selain akibat aktivitas nelayan – yang menangkap penyu sebagai tangkapan samping – populasi Penyu Belimbing terancam serius oleh perburuan liar untuk mendapatkan telur, daging, dan cangkangnya. Begitu juga karena pencemaran laut; terutama oleh sampah plastik yang sering tertelan penyu karena disangka ubur ubur kesukaannya.

Sebagai pemangsa utama ubur-ubur, Penyu Belimbing menjadi pengatur keseimbangan populasi ubur-ubur di alam. Berlebihnya populasi ubur-ubur dapat menyebabkan penurunan populasi ikan, khususnya ikan-ikan dengan nilai komersial yang laku dipasaran, dikarenakan ubur-ubur adalah pemangsa utama larva ikan tersebut. Dengan demikian, pelestarian Penyu Belimbing memberikan manfaat bagi ikan, manusia dan industri nelayan.

Coba kalian bayangin aja klo penyu sebesar ini harus musnah, sayang sekali kan…. apalagi penyu ini merupakan penyu bagi kebanggan negara kita.

oleh karena itu marilah kita bersama2 melestarikan penyu yang ada di indonesia, demi kelestarian alam kita yang lestari…

Giant JellyFish (Ubur-Ubur Raksasa)

They poison fish, sting humans and even attack nuclear power stations. They are 6 feet wide, up to 440 pounds in weight, and they are pink, slimy and repellent. They sound like rubber monsters from a Godzilla film, but they are Echizen kurage, or Nomura’s jellyfish, an authentic horror of the deep about to launch its latest assault on Japan.

Four years after they last caused havoc, and for reasons that remain mysterious, an armada of the gelatinous giants is gathering in the Yellow Sea off China and the Korean peninsula. It is expected to drift into the Sea of Japan in the next few months.

“The arrival is inevitable,” Professor Shinichi Ue at Hiroshima University, told the Yomiuri newspaper. “A huge jellyfish typhoon will hit the country.”

In 2005, fishermen looking for anchovies, salmon and yellowtail began finding huge numbers of the jellyfish in their nets. When the Nomuras grow larger than a metre in diameter, half a dozen of them can destroy a fishing net. The fish caught alongside them are poisoned and covered in slime and rendered unsaleable.

So serious was the situation that salmon boats in northern Japan stopped going out, and in some places fishermen lost 80 per cent of their income. Even staff at some of the nuclear power plants along the Japan Sea coast found that the jellyfish got sucked into the pumps which take in sea water to cool the reactors.

No one is sure about the reasons for the slimy plague. One theory is that climate change is heating up the sea water and encouraging them to breed. Another blames effluent from rivers in China, which carries nutrients on which the jellyfish feed. Another blames over-fishing of other species, leaving a surfeit of plankton for the Echizen kurage to feed on.

Giant Herring

PEJALAN KAKI di pantai Swedia, baru-baru ini menemukan ikan herring raksasa yang memiliki panjang sekitar 12 meter (39 kaki) dan diperkirakan hidup sekitar 130 tahun yang lalu. Penemuan tersebut membuat orang-orang yang melihatnya terkejut dan berpikir tentang mitos-mitos tentang ikan seperti legenda ular laut kuno dan mitos naga laut. Bahkan mereka juga memperbandingkan dengan penampakan ikan raksasa yang ada di Jepang, yaitu apabila menemukan ikan raksasa di air yang dangkal dianggap sebagai pertanda buruk sebelum gempa bumi.

Ikan raksasa itu ditemukan oleh Kurt Ove Eriksson di desa kecil nelayan, Bovallstrand, Swedia Barat, sekitar 90 kilometer dari perbatasan Norwegia. Ikan ini juga sering disebut dengan oarfish raksasa, tapi untuk ukuran 12 meter seperti yang ditemukan oleh Kurt, sangat jarang sekali. Ikan Oarfish raksasa itu memiliki berat hingga 300 kilogram (660 pon). Biasanya ikan jenis ini membuat rumah di perairan yang lebih hangat dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka jauh di bawah permukaan laut, antara 200 dan 1.000 meter (650 ke 3.280 kaki) bawah.

“Pada awalnya, kami kira itu sepotong raksasa dari plastik,” kata Kurt Ove Eriksson, yang menemukan ikan, seperti dilansir dari surat kabar Svenska Dagbladet. “Tapi kemudian kami terkejut ketika melihatnya langsung.”

Ikan itu kini dibawa ke museum museum House of Sea di Lysekil. “Tidak bisa dipercaya, saya masih belum bisa percaya,” kata seorang karyawan museum.

Meskipun ikan oarfish raksasa sangat langka ditemukan di pantai Inggris pada bulan Februari 2009, namun pihak museum juga mengakui pada tahun 1879 pernah juga ditemukan raja hearing. Kini ikan tersebut menjadi koleksi tambahan pihak museum, untuk jenis monster laut, yang rencananya akan dipamerkan akhir tahun ini.

Ikan herring raksasa dengan panjang 3,5 meter

Ikan ini termasuk ke dalam kategori langka. Meskipun dapat ditemukan di semua lautan beriklim tropis namun jarang terlihat. Saking langkanya sehingga ikan ini tidak pernah tertangkap kamera dalam keadaan hidup hingga tahun 2008 dan baru di temukan pada tahun 2009.

Oarfish termasuk ke dalam family Regalecidae yang memiliki empat spesies. Salah satu spesies, Regalecus Glesne, yang di foto terakhir itu gan yang panjang, pernah masuk ke dalam Guinnes Book of World Record karena pernah ditemukan seekor yang hidup dengan panjang tubuh hingga 11 meter (36 kaki).

Ikan ini memiliki sirip tunggal berwarna merah dan termasuk ikan yang penyendiri. Namun ketika ikan ini sedang sakit atau sekarat, sepertinya sang penyendiri ini tidak ingin mati dalam kesepian. Jadi ia naik ke atas permukaan laut dan bertahan disitu hingga mati. Mungkin untuk menarik perhatian para pelaut, atau hanya ingin memandang matahari untuk terakhir kalinya.

Para pelaut masa lampau mungkin telah melihat ikan ini di permukaan dan mempersepsikannya sebagai monster laut. Misalnya, pada tahun 1860, ketika seekor Oarfish sepanjang 5 meter terdampar di pantai Bermuda, para penduduk segera mengkaitkannya dengan monster laut yang legendaris.

Mereka memakan ikan yang sangat kecil, udang, dan invertebrata lain dan menyaring makananya melalui mulut ompong. Oarfishes memiliki tubuh keperakan, puncak merah di kepala mereka.

Mola-Mola (Sunfish)

Mola-mola atau nama lainnya “sunfish”, merupakan satu makhluk terbesar dan paling aneh bentuknya di laut. Mola-mola dapat dijumpai di seluruh samudra di dunia. Bahkan di perairan Indonesia sudah kbeberapa kali ditemukan si Mola-mola ini. Saat ditemukan disuatu lautan, biasanya mereka sedang dalam masa bermigrasi. Tak banyak informasi yang diketahui tentang ikan besar yang ramah ini.

Para peneliti dari Pusat Pelagis Univesitas New Hampshire tengah mempelajari perilaku Mola-mola dengan menggunakan transmitter radio yang didesain secara khusus sehingga mampu mengambang di permukaan air dan mengirimkan data lewat satelit. Yang mengejutkan, data yang dikumpulkan tentang gerakan Mola-mola menunjukkan bahwa Mola-mola di Atlantik utara bermigrasi sedikitnya 3000 kilometer dan dapat menyelam sedalam 800 meter. Mereka bermigrasi ke selatan pada waktu musim semi, terkadang dengan mengikuti tepian dasar benua dan bepergian sampai sejauh teluk Meksiko.

Mola-mola dikenal sebagai ikan yang mampu mengambang dalam waktu lama di permukaan air. Namun berdasarkan penelitian, Mola-mola mampu bermigrasi untuk periode yang cukup panjang di kedalaman samudra. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mereka mampu berenang di bawah arus yang mengalir ke utara ketika bermigrasi ke selatan. Makanan Mola-mola yang paling utama adalah ubur-ubur yang biasa ditemukan di sekitar penyu belimbing. Mola-mola juga menyantap zooplankton, cumi-cumi, bintang laut, belut laut, dan rumput laut.

Berat seekor Mola-mola dewasa bisa mencapai 2300 kilogram dan besarnya sekitar 4,3 meter. Mola-mola dikenal dengan bentuknya yang unik, yaitu memilki kepala raksasa, sirip yang panjang dan tidak memiliki ekor. Sebenarnya mereka memiliki ekor berupa “clavus” yaitu pucuk ekor yang bergelombang dan lebar yang sebenarnya tak berguna untuk berenang, tak seperti layaknya ikan pada umumnya. Kulit mereka dilapisi lendir yang menjadi tempat hidup beberapa jenis parasit.

Cumi2 Raksasa

Untuk pertama kalinya, seekor cumi-cumi raksasa (Architeuthis) berhasil ditangkap hidup-hidup dan sempat direkam aktivitasnya. Hewan sepanjang 7

meter itu ditangkap di dekat Pulau Chachijima yang berada sekitar 1000 kilometer sebelah tenggara Tokyo, Jepang awal bulan Desember.

Sejak bulan September, para peneliti dari Departemen Zoologi, Museum Sains Nasional Jepang telah memulai mencari jejak cumi-cumi raksasa dengan mengikuti predatornya, yakni paus sperma. Selama September hingga Desember, paus sperma memang bergerak di sekitar Kepulauan Ogasawara untuk mencari sumber makanan.

Untuk memancingnya keluar, para peneliti menggunakan cumi-cumi kecil yang dikaitkan di ujung kail. Para peneliti yang dipimpin Tsunemi Kubodera akhirnya

mendapatkan seekor cumi-cumi raksasa yang berwarna coklat kekuningan dan berhasil merekamnya sejak muncul ke permukaan hingga diangkat ke atas kapal pada 4 Desember.

Kubodera mengatakan, hewan tersebut sempat melakukan perlawanan sehingga sulit dibawa ke atas kapal. Bahkan karena luka-luka yang dialaminya selama ditangkap membuatnya tidak bertahan hidup beberapa lama kemudian.

Ia mungkin termasuk cumi-cumi raksasa yang masih muda. Pasalnya, sebagai hewan tak bertulang belakang terbesar, cumi-cumi raksasa dewasa bisa tumbuh

mencapai 18 meter. Namun, karena hidupnya terpencil hingga ratusan meter di dasar laut, keberadaannya di alam masih belum banyak dipelajari.

“Tidak seorang pun pernah melihatnya langsung dalam keadaan hidup kecuali para nelayan,” ujar Kubodera saat menunjukkan rekamannya Jumat (22/12). Ia mengatakan, ini mungkin rekaman video pertama cumi-cumi raksasa hidup yang pernah dibuat.

Cumi-cumi raksasa lebih banyak dikenal sebagai mitos sebagai penyerang yang memiliki tentakel beracun. Tim peneliti Jepang telah memulai ekspedisi untuk memburu cumi-cumi raksasa sejak tiga tahun lalu. Mereka berhasil membuat foto pertama cumi-cumi yang hidup di dasar laut menggunakan kamera bawah laut

pada 2005.

Dari foto-foto tersebut, para peneliti bisa lebih memahami bahwa cumi-cumi raksasa bergerak lebih lincah dari dugaan semula. Mereka juga memanfaatkan tentakelnya sejak awal untuk menangkap mangsanya.

“Sekarang kami tahun di mana harus menangkapnya, kami yakin dapat mempelajarinya lebih banyak lagi ke depan,” ujar Kubodera.

Paus Biru

Paus Biru (Balaenoptera musculus) adalah mamalia laut yang menyertai subordo Paus Balin.[2] Panjangnya mencapai lebih dari 33 meter dan massa 181 ton metrik atau lebih, hal ini dipercaya menjadi hewan terbesar yang dimiliki sepanjang hidup[3][4] meskipun beberapa penemuan dinosaurus secara terpisah seperti Amphicoelias fragillimus kolosal mungkin tantangan kepercayaan yang bertahan lama.

Panjang dan langsing, tubuh Paus Biru dapat bervariasi keteduhan kelabu kebiruannya.[2] Ada sedikitnya tiga perbedaan subspesies: B. m. musculus Atlantik utara dan Pasifik utara, B. m. intermedia, Samudra selatan dan B. m. brevicauda (juga dikenal sebagai Paus Biru Kerdil) ditemukan di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Selatan. B. m. indica ditemukan di Samudra Hindia, mungkin menjadi subspesies lain. Seperti dengan paus balin lain, pola makannya berisi secara pokok crustacea kecil yang dikenal sebagai krill, yang sama baiknya dengan ikan kecil dan cumi-cumi.

Paus Biru sangat berlimpah di hampir seluruh samudra hingga memasuki abad 20. Selama lebih dari 40 tahun paus-paus tersebut diburu sampai mendekati kepunahan dengan adanya perburuan paus hingga dilindungi oleh komunitas internasional pada tahun 1966. Sebuah laporan tahun 2002 memperkirakan ada 5.000 sampai 12.000 Paus Biru di seluruh dunia[5] yang lokasinya terbagi dalam sedikitnya lima kelompok. Kebanyakan riset saat ini memberi perhatian terhadap subspesies Kerdil yang mungkin dibawah perkiraan.[6] Sebelum perburuan paus, populasi terbesar berada di Antartika, dengan jumlah diperkirakan 239.000 (mencapai 202.000 hingga 311.000).[7] Sisanya yang hanya sebagian kecil (sekitar 2.000) mengkonsentrasikan di setiap kelompok Pasifik timur laut, Antartika, dan Samudra Hindia. Ada dua lebih kelompok di Samudra Atlantik utara dan sedikitnya dua di Belahan Selatan.

White Sturgeon

Ikan White Sturgeon merupakan ikan air tawar besar ditemukan di pantai Pasifik Amerika Utara, Teluk Alaska, dan California. Ini adalah ikan air tawar terbesar di Amerika Utara. Seseorang pernah menimbang ikan ini lebih dari 1500 lbs, tumbuh sepanjang 15 kaki, dan dapat hidup lebih dari 100 tahun. Ikan ini diklasifikasikan sebagai “Hewan bertulang dalam”, yaitu sekelompok ikan yang memiliki kerangka yang terbuat dari tulang. Ikan ini memiliki lima baris dari lempeng tulang yang disebut “Scutes” yang mencapai dari insang sampai ekor. Meskipun dua spesies tidak berhubungan, ikan ini mirip ikan hiu dan bahkan memiliki ekor seperti ikan hiu. Warna punggungnya abu-abu muda sedangkan permukaan ventral berwarna putih, sehingga dinamakan White Sturgeon. Mulutnya besar namun memiliki tidak memiliki lidah, dan memiliki empat alat perasa yang dinamakan “Barbell”, yang digunakan untuk merasakan makanan.

Ikan White Sturgeon hidup di dasar sungai yang berarus lambat, teluk, dan daerah muara dimana mereka menghabiskan sebagian besar waktu mencari-cari di dasar laut untuk makan. Mereka tidak memiliki gigi, sehingga makanan yang biasanya dimakan dengan menghisap melalui mulut panjang mereka. Makanannya terdiri dari kerang-kerangan, udang-udangan, cacing, dan telur ikan. Ikan sturgeon putih besar Biasanya juga makan ikan lain seperti teri, lamprey salmon, shad. Pemijahan biasanya terjadi pada akhir musim semi atau awal musim panas. Untuk mereproduksi, laki-laki berkumpul di daerah sungai dengan arus yang kuat untuk melepaskan sperma mereka. Sedangkan wanita melepaskan jutaan telur, sehingga terjadi fertilisasi sebanyak mungkin. Setelah telur dibuahi, mereka jatuh ke lantai sungaidan menetas sekitar seminggu kemudian. Setelah menetas, para ikan sturgeon muda mirip berudu, dan tidak memiliki bagian tubuh yang lengkap. Sirip, warna, dan sisik menebal sampai sebulan kemudian. Ikan sturgeon muda memakan serangga, dan krustasea kecil dan ikan.

Ikan White Sturgeon terancam punah karena penangkapan yang berlebihan, perusakan habitat, dan polusi. Pada tahun 1800-an akhir, ikan ini diburu secara berlebihan untuk olahraga dan pangan, juga telur sturgeon yang populer untuk membuat kaviar. Untuk melindungi spesies ini, kepentingan untuk komersial dan olahraga memancing telah dilarang oleh negara bagian California sejak awal 1900-an, tapi penangkapan ikan komersial masih legal dan diatur oleh lembaga perikanan dinegara-negara lain. Di beberapa daerah, peraturan termasuk penutupan daerah untuk melindungi pemijahan ikan dan perlindungan hukum terhadap remaja dan ikan yang lebih tua lebih ketat lagi.