Ikan Lele Raksasa Pemakan Manusia

Mau tahu ikan raksasa? Great Kali Gandaki River
adalah sebuah sungai yang berada di perbatasan antara India dan Nepal. Alirannya bersumber dari sumber air di Pegunungan Himalaya di ketinggian 3600 mdpl. Keindahan sungai ini sudah tak perlu diragukan lagi. Sayangnya suatu Legenda menakutkan tentang monster pemakan manusia, menghantui desa-desa yang berada di kawasan ini. Membuat penduduk enggan mandi ataupun bermain di sekitar sungai itu.

Seorang pemuda Nepal ketika baru saja masuk ke dalam sungai, langsung ditarik oleh “sesuatu” dan lenyap begitu saja. Tiga bulan berselang, seorang anak laki-laki yang sedang mandi di Sungai Kali bersama ayahnya, tiba-tiba di serang dan di seret kedalam air. Si ayah hanya bisa berteriak dan tak dapat melakukan apa-apa. itulah kejadian pertama  yang mengawali teror ganas dari mahluk penghuni sungai itu.
Kejadian itu berulang lagi, dan semakin lama semakin menghantui para penduduk yang tinggal disekitar sungai itu, Bahkan belakangan ini laporan tentang hilangnya penduduk yang mandi disitu semakin meningkat, penduduk bingung dan mulai berargumentasi tentang jenis makhluk yang tinggal di situ, beberapa penduduk mulai percaya bahwa ada sekumpulan buaya yang hidup di sungai itu, namun setelah diselidiki tidak ada komunitas buaya yang hidup di sungai itu.
Terakhir pada tahun 2007, seorang pemuda nepal berumur 18 tahun yang sedang berenang si sungai itu ditarik oleh seekor monster yang misterius dan tiba-tiba lenyap begitu saja dari permukaan air, menurut saksi mata yang melihat kejadian itu, monster itu menyerupai babi yang berukuran sangat besar.
Rasa penasaran penduduk akhirnya terjawab ketika seorang ahli biologist dari Inggris bernama Jeremy Wade melakukan penelitian di sungai kali dan menemukan jawaban yang mengejutkan.
Wade menemukan kenyataan bahwa monster pemakan manusia itu adalah seekor ikan Lele raksasa (Giant cat fish) yang telah mengalami perubahan DNA karena sering memakan mayat yang dihanyutkan di sungai itu setelah terlebih dahulu dibakar dalam upacara adat tradisional yang masyarakat setempat yang dikenal dengan nama Ritual Bagmati.
“ Ikan jenis ini merupakan jenis ikan endemis sungai ini. Namun, karena telah puluhan tahun menyantap daging mayat yang dihanyutkan melalui sungai, ikan ini berubah secara genetik menjadi jauh lebih besar dari ukuran sebenarnya. Mereka menjadi ketagihan, dan mulai menjadikan daging manusia menjadi menu utama. Jadi jika lama tidak ada ritual pemakaman, ikan ini menjadi ganas dan menyerang manusia,” Wade menjelaskan.
Dalam penelitiannya, Jeremy Wade juga berhasil menangkap seekor ikan lele pemangsa daging manusia dengan ukuran 1,8 meter dan berat berkisar 73 kilogram. Menurut Wade jika ikan dengan ukuran sebesar itu ketika menyerang manusia di dalam air, maka sedikit sekali kemungkinan korbannya untuk menyelamatkan diri. Wade lalu menamakan ikan lele raksasa itu dengan nama Goonch Fish.
Perjalanan penelitian Jeremy Wade saat menyelidiki ikan lele pemakan manusia di Sungai Kali Dakali telah di dokumentasikan dan akan ditayangkan perdana pada tanggal 21 Oktober nanti di salah satu stasiun televisi Inggris (Channel 5) dengan judul “ Monster Air Pemakan Daging Manusia”.

sumber : http://www.beritaterkinionline.com/

Iklan

Bagaimana Hewan yang Hidup di Dasar Laut Mendapatkan Makanan?

Kita semua tahu bahwa laut dalam atau dasar laut adalah wilayah laut yang memiliki tekanan hidrostatik yang meningkat dengan cepat, gelap, suhu sangat dingin, kadar Oksigen rendah, dan suplai makanan yang langka. Lalu bagaimana organisme yang menempati wilayah in dapat hidup? Dan dari mana mereka mendapatkan makanan?


Organisme yang hidup di laut dalam harus beradaptasi dengan berbagai kondisi yang mereka temukan di sana. Bentuk dan struktur tubuh organisme laut dalam disesuaikan dengan kondisi dasar laut. Makanan pada twilight zone (zona senja) hingga zona gelap di lautan adalah sumber daya yang langka. Makanan yang langka juga mempengaruhi struktur tubuh.Oleh karena itu, ikan laut dalam cenderung untuk menghemat energi. Energi yang mereka miliki harus dialokasikan untuk pertumbuhan, pemeliharaan dan reproduksi. Ikan laut dalam menurunkan penggunaan energi mereka dengan menyesuaikan tubuh terhadap kondisi yaitu dengan memiliki otot yang lemah, tulang yang kurang padat, tingkat metabolisme yang lebih rendah, dan memperlambat kecepatan bernapas (respirasi).

Demi menghemat energi ini, ikan laut dalam perlu mengambil keuntungan penuh dari setiap mangsa potensial yang mungkin mereka hadapi. Adaptasi ini ditunjukkan dengan kecenderungan  memiliki mulut yang besar, rahang dan gigi yang kuat, dan perut besar serta dapat diperpanjang. Ikan laut dalam bahkan dapat memperpanjang perutnya sampai tiga kali ukuran mangsa yang jauh lebih besar. Misalnya, seekor belut gulper dengan mulut yang besar bisa menelan ikan lain yang jauh lebih besar daripada dirinya.

Banyak hewan tingkat tinggi seperti ikan mengandalkan menangkap hewan atau spesies lain untuk dimakan. Beberapa ikan laut dalam secara teratur bermigrasi untuk mencari makan dekat permukaan, terutama pada malam hari saat jumlah pemangsa lebih sedikit. Ikan laut dalam berbeda dengan ikan permukaan karena ikan laut dalam memiliki tubuh lembek kecil jika dibandingkan dengan kerabat mereka di dekat permukaan.

Sumber makanan lain bagi organisme laut dalam bergantung pada makanan yang jatuh dari atas (material detritus) atau makan satu sama lain. Binatang besar yang mati seperti ikan hiu atau paus akan jatuh ke wilayah ini kemudian akan dimakan oleh organisme laut dalam. Peristiwa makan ini berlangsung cepat dan jarang.

Selain ukuran mulut yang besar, bentuk adaptasi lain untuk menghemat energi sekaligus mendapatkan makanan adalah mengevolusikan sejumlah keahlian khusus (adaptasi perilaku). Sebagai contoh, Ikan Fang Tooth yang memiliki tingkat agresifitas yang tinggi sehingga ketika ada mangsa yang lewat di depannya ia dapat dengan cepat memakannya, karena memang tidak banyak hewan laut yang mampu hidup dalam ekosistem ini. Kemudian contoh lainnya adalah Ikan Hairyangler yang tubuhnya dipenuhi dengan antena sensitif sekali terhadap setiap gerakan dan berfungsi untuk mendeteksi mangsa yang ada didekatnya.

Sebagian besar laut dalam di  dunia terdiri dari banyak lumpur seperti cairan yang mengandung materi detritus. Ini berasal dari perut bumi. Hewan yang dapat menghuni lingkungan ini harus mampu untuk berpindah di seluruh cairan tanpa tenggelam.  Hewan yang dapat hidup di tempat seperti ini memiliki bentuk bintang atau dengan banyak tentakel karena dapat menyaring makanan dari air di atas lumpur sementara tubuh hewan duduk di permukaan lumpur.  Contoh spesies ikan yang disebut ikan tripod memiliki tiga sirip diperluas membentuk tripod yang memungkinkan ikan bergerak dengan mudah di atas substrat lunak tanpa tenggelam ke dalamnya.

Pada lokasi cerobong hidrotermal, daerah dasar laut yang mirip gunung berapi mini, air dipenuhi dengan kandungan Hidrogen Sulfida (H2S) yang beracun. Walau keadaan yang demikian terdapat penghuni di cerobong tersebut yaitu Puly Chaek yang terdapat pada suhu 80o Celsius. Tidak ada hewan yang lain yang bisa hidup pada suhu dan tekanan tinggi, sehingga para ilmuwan menyebutnya cacing pompeii.

Dalam bagian lain sekitar cerobong yang lebih ramah,  bisa terdapat banyak komunitas yang terdiri dari beberapa organisme, bagian bawah dari lubangnya dipenuhi oleh kerang besar, kemudian kepiting putih. Selain itu terdapat cacing berwarna merah yang memenuhi bagian dari cerobong tersebut dengan panjang masing-masing 2 m dan lebar 4 cm. Didalam tubuh mereka terdapat bakteri yang mampu menyerap energi dari sulfida yang keluar dari cerobong. Koloni bakteri ini adalah sumber energi utama setiap organisme hidup disini. Bakteri dan mikroba lainnya adalah inti dari rantai makanan yang diperlukan oleh lebih dari 500 spesies. Bagian teratas dari rantai makanan ada ikan yang tidak pernah bergerak jauh dari lubang itu.

Selain dengan sulfida ada yang menggunakan sumber energi lain yaitu dengan menggunakan gas Metan (CH4). Dan sekali lagi hewan yang ada didasar laut tersebut mengandung bakteri khusus yang mampu mengolah energi dari gas metan ini. Hewan laut yang hidup di ekosistem ini adalah udang, lobster, cacing polychaete merah, dan kerang.

8 Hewan Langka Di Indonesia

Inilah daftar nama hewan yang dilindungi oleh hukum di Indonesia.

1. Burung Merak

Merak Biru atau Merak India, yang dalam nama ilmiahnya Pavo cristatus adalah salah satu burung dari tiga spesies burung merak. Merak Biru mempunyai bulu berwarna biru gelap mengilap. Burung jantan dewasa berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 230cm, dengan penutup ekor yang sangat panjang berwarna hijau metalik. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak biru membentuk kipas. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Bulu-bulunya tidak mengilap, berwarna coklat kehijauan dengan garis-garis hitam dan tanpa dihiasi bulu penutup ekor. Burung muda seperti betina.
Merak Biru mempunyai bulu berwarna biru gelap mengilap. Burung jantan dewasa berukuran besar, panjangnya dapat mencapai 230cm, dengan penutup ekor yang sangat panjang berwarna hijau metalik. Di atas kepalanya terdapat jambul tegak biru membentuk kipas. Burung betina berukuran lebih kecil dari burung jantan. Bulu-bulunya tidak mengilap, berwarna coklat kehijauan dengan garis-garis hitam dan tanpa dihiasi bulu penutup ekor. Burung muda seperti Merak betina.

2. Kuskus

Kuskus Beruang atau Kuse (Ailurops ursinus) adalah salah satu dari dua jenis kuskus endemik di Sulawesi. Binatang ini termasuk dalam golongan binatang berkantung (marsupialia), dimana betinanya membawa bayi di dalam kantong yang terdapat di bagian perut. Panjang badan dan kepala kuse adalah 56 cm, panjang ekornya 54 cm dan beratnya dapat mencapai 8 kg. Kuse memiliki ekor yang prehensil, yaitu ekor yang dapat memegang dan biasa digunakan untuk membantu berpegangan pada waktu memanjat pohon yang tinggi.Nasib Kuse di Sulawesi Utara berada dalam bahaya karena populasinya sudah terlampau kecil.Antara tahun 1980 dan 1995 di Tangkoko telah terjadi pengurangan kepadatan sebesar 50%, yakni dari 3,9 ekor per km2 menjadi 2,0 ekor per km2. Selama survei WCS di hutan-hutan lindung Sulawesi Utara tahun 1999, binatang ini hanya terlihat tujuh kali di sepanjang 491 km jalur transek. Ini menunjukkan kepadatan populasi yang sangat rendah.

3. Kijang

Kijang atau muncak adalah kerabat rusa yang tergabung dalam genus Muntiacus. Kijang berasal dari Dunia Lama dan dianggap sebagai jenis rusa tertua, telah ada sejak 15-35 juta tahun yang lalu, dengan sisa-sisa dari masa Miosen ditemukan di Prancis dan Jerman.Jantannya memiliki tanduk pendek yang dapat tumbuh bila patah.Hewan ini sekarang menarik perhatian penelitian evolusi molekular karena memiliki variasi jumlah kromosom yang dramatis dan ditemukannya beberapa jenis baru (terutama di Indocina).

4. Elang Jawa

Elang Jawa (Spizaetus bartelsi) adalah burung nasional Indonesia karena kemiripannya dengan Garuda dan juga merupakan simbol jenis satwa langka di Indonesia. Elang Jawa hanya terdapat di Pulau Jawa dan penyebarannya terbatas di hutan-hutan. Sebagai predator puncak, Elang Jawa memainkan peran yang penting dalam menjaga keseimbangan dan fungsi dari bioma hutan di Jawa. Elang Jawa merupakan salah satu jenis burung pemangsa terlangka di dunia. Berdasarkan kriteria keterancaman terbaru dari IUCN, Elang Jawa dimasukan dalam kategori Endangered atau “Genting”.

5. Bangau Hitam

Masuk dalam suku ciconiidae, bangau tongtong berhabitat asli di Asia, khususnya wilayah India, Indo Cina dan Indonesia kecuali Irian dan Maluku. Mereka menyebar ke Afrika, Myanmar, Hong Kong dan Filipina. Burung berkaki kuat ini senang hidup di daerah rawa, sungai, hutan bakau, sawah, dan hutan terbuka. Kadang juga di daerah tanah kering dan berlumpur.
Tubuhnya berwarna hitam, kecuali leher dan perut bagian bawah berwarna putih. Panjang tubuh bisa mencapai 91 sentimeter. Di malam hari, bangau tongtong bertengger di pohon.
Spesies ini merupakan satu-satunya bangau yang tidak melebarkan kaki dan sayap pada saat terbang. Mereka termasuk hewan yang mempunyai banyak variasi gaya hidup. Bangau tongtong bisa hidup menyendiri, berpasangan atau kadang berkelompok. Burung yang di daerah Jawa populer dengan nama sandanglawe ini sudah makin sulit ditemui. Mereka termasuk satwa yang dilindungi undang-undang karena mulai terancam punah.

6. Alap Alap

Burung ini termasuk carnivora atau pemakan daging. Salah satu jenis dari alap-alap ini yang populer adalah alap-alap capung. Dia dikenal karena tubuhnya yang kecil. Burung alap-alap capung berparuh kecil, berdarah panas, dan seperti burung pada umumnya, dia membiak dengan cara bertelur.
Dikenal sebagai burung karnivora terkecil di dunia, alap-alap capung dapat ditemukan di kawasan Asia Tenggara dengan ukuran rata-rata sepanjang 15 cm dengan berat badan 35 gram.

7. Anoa

Anoa (Bubalus spp). Anoa disebut juga sapi hutan atau kerbau kerdil. Anoa merupakan satwa terbesar daratan Sulawesi. Terdapat dua jenis Anoa di Sulawesi, yaitu Bubalus depressicornis (Anoa dataran rendah) dan Bubalus quarlesi (Anoa dataran tinggi). Makanan Anoa berupa buah-buahan, tuna daun, rumput, pakis, dan lumut. Anoa bersifat soliter, walaupun pernah ditemui dalam kelompok. Seperti umumnya sapi liar, Anoa dikenal agresif dan perilakuknya sulit diramalkan. Karena hanya makan tunas pohon dan buah-buahan yang tidak banyak mengandung natrium, maka Anoa harus melengkapi makanannya dengan mencari natrium ditempat bergaram. Pada saat ini, populasi Anoa merosot tajam. Di cagar alam Tangkoko Dua Saudara Bitung Sulawesi Utar, jumlah Anoa menurun 90% selama 15 tahun dan jenis ini sudah mengalami kepunahan setempat.

8. Burung Gosong

Gosong Maluku yang dalam nama ilmiahnya Eulipoa wallacei adalah sejenis burung gosong berukuran kecil, dengan panjang sekitar 31cm, dan merupakan satu-satunya spesies di dalam genus tunggal Eulipoa.
Burung Gosong Maluku memiliki bulu berwarna coklat zaitun, kulit sekitar muka berwarna merah muda, iris mata coklat, tungkai kaki gelap, paruh kuning keabu-abuan, bulu sisi bawah abu-abu biru gelap dan tungging berwarna putih. Di punggungnya terdapat motif berbentuk palang dan penutup sayap yang berwarna merah gelap berujung abu-abu.
Populasi hewan endemik Indonesia ini hanya ditemukan di hutan perbukitan dan hutan pegunungan di kepulauan Maluku dan pulau Misool di Papua Barat. Gosong Maluku adalah satu-satunya burung gosong yang diketahui bertelur pada malam hari. Sarang burung Gosong Maluku biasanya terdapat di daerah pasir yang terbuka, daerah sekitar pantai gunung berapi dan daerah-daerah yang hangat dari panas bumi.
Berdasarkan dari hilangnya habitat hutan yang terus berlanjut, keamanan yang tidak stabil di Maluku yang menghambat usaha perlindungan spesies serta populasi yang terus menyusut dan daerah dimana burung ini ditemukan sangat terbatas, Gosong Maluku dievaluasikan sebagai rentan di dalam.

Ilmuwan Temukan Binatang Aneh Mirip Tikus Dan Gajah

Seekor mamalia berbulu dengan hidung mirip belalai muncul di hutan terpencil Afrika.

Tikus agak besar ini diperkirakan spesies baru.

Ahli konservasi yang mempelajari keanekaragaman hayati di hutan Boni-Dodori, pantai timur laut Kenya, telah mendirikan jebakan kamera di wilayah tersebut setelah seorang ilmuwan melihat binatangsengi (tikus gajah) yang tidak dikenal.

Dari gambar tersebut, peneliti mengenali warna merah marun di sisi bahu dan punggung spesies itu. Hewan ini juga berciri pantat yang lebih rendah dengan warna hitam.

Secara garis besar, ilmuwan menilai bahwa makhluk ini lebih besar dibandingkan tikus berbelalai biasa.

Diperkirakan, objek itu miliki berat 600 gram, sepanjang 550 milimeter dan memiliki ekor 250 milimeter.

Tim ilmuwan yang berasal dari Zoological Society of London (ZSL) dan Kenya Wildlife Service (KWS) ini menganalisa DNA binatang itu untuk mengkonfirmasi apakah benar termasuk spesies baru.

Jika terbukti, hewan ini menjadi spesies ke-18 dari sengi yang masuk di keluarga Macroscelididae di mana semuanya berasal dari Afrika.

“Nenek moyang kita sering salah memahami hewan ini”

“Strategi perkawinan monogami dan moncong karismatik mereka yang fleksibel membuat spesies ini sangat menawan,” kata peneliti dari California Academy of Science Galen Rathbun.

‘Spesies Baru’ Samudera Hindia

Para ilmuwan Inggris menemukan apa yang mereka yakini sebagai spesies-spesies baru di dekat ventilasi vulkanik di Samudera Hindia.

Tim peneliti dari Universitas Southampton menggunakan robot yang dikendalikan dari jarak jauh untuk memotret binatang-binatang tersebut.

Di antaranya terdapat mentimun laut, kepiting berbulu, dan keong bersisik.

Dr Jon Copley, salah satu peneliti dalam proyek ini, mengatakan timnya tertarik melakukan penelitian di lokasi tersebut karena ventilasi vulkanik ini berada di tengah persinggungan antara kawasan Samudera Hindia dan Atlantik.

“Makanya kami mengharapkan adanya binatang-binatang yang memiliki sifat-sifat Samudera Hindia dan Atlantik,” kata Copley.

“Tapi kami juga menemukan binatang-binatang yang sama sekali berbeda dengan sifat asli dua kawasan yang bertetangga tersebut. Ini benar-benar satu kejutan,” tambahnya.

“Salah satunya adalah kepting yeti yang berbulu. Yang kami ketahui ada dua spesies ini dari Pasifik. Yang kami temukan sama sekali berbeda dengan yang ada di Pasifik,” jelas Copley.

“Tipenya sama tapi yang kami temukan memiliki kaki yang panjang dan ada banyak bulu di kaki-kaki binatang ini,” katanya.

Tim ilmuwan juga mengatakan terkejut dengan banyaknya jenis-jenis kehidupan yang ditemukan di lokasi penelitian.

Para ilmuwan akan meneliti bagaimana binatang-binatang laut ini berevolusi. (Erabaru/bbc.co.uk/sua)

Goliath Frog (Conraua goliath)

Pernahkah anda melihat katak sebesar ini? Pasti jawabannya belum, Namanya Goliath Frog (Conraua goliath). Habitatnya di Sungai Benito, Cameroon, Afrika Barat (dekat Gabon). Panjangnya bisa mencapai 33 cm (tanpa kaki yang dipanjangkan) dan beratnya bisa mencapai 3,3 kg. Kalau sedang duduk akan terlihat sebesar kucing. Anak-anak di Afrika tampaknya sudah akrab dan mungkin saja jadi binatang kesayangan dan peliharaan. Wow, di Indonesia binatang peliharaannya kucing atau anjing. Di Afrika binatang peliharaannnya katak raksasa.


Namun Jumlah mereka semakin berkurang, karena perusakan habitat dan kebanyakan dari mereka di awetkan untuk menjadi hiasan atau tukar menukar hewan peliharaan. Sekitar 300 goliath, di ekspor ke luar negeri setiap tahunnya.

Nama Ilmiah : Conraua goliath


Umur Hidup : 15 tahun
Makanan : Kalajengking, Serangga, Kodok yang lebih kecil

By baksopl Posted in Fauna

Hewan Terkecil di Dunia

1. Anjing Terkecil Sejagad

www.haxims.blogspot.com
 Ducky seekor anjing di Massachusetts USA dengan 4.9 inci (12.4 cm), merupakan anjing yang masuk Guinness World Record untuk anjing terkecil sejagad. Anjing terkecil yang pernah memegang rekor sebelumnya menurut Guinness, adalah seekor Yorkshire Terrier yang memiliki tinggi 2.8 inches.
2. Ular Terkecil Sejagad
www.haxims.blogspot.com
Leptotyphlops Carlae adalah spesies ular terkecil sejagad, yang memiliki panjang rata-rata kurang dari 4 inci. Ditemukan di kepulauan Karibia Barbados, Blair Hedges.
3. Ikan Terkecil Sejagad
www.haxims.blogspot.com
Ikan terkecil sejagad ini ditemukan pada Januari 2006 di pulau Sumatra Indonesia, dan merupakan spesies dari ikan gurami (Paedocypris Progenetica). Ini adalah ikan terkecil sejagad dengan panjang hanya 7.9 mm (0.3 inci).
4. Kucing Terkecil Sejagad
www.haxims.blogspot.com
Kucing terkecil sejagad ini berusia 2 tahun dan terdapat di pusat Illinois, kucing ini memiliki berat sekitar tiga kilogram dan merupakan kucing terkecil yang masuk Guinness Book of World Records pada 2004.
5. Hamster Terkecil Sejagad
www.haxims.blogspot.com
Hanya sedikit lebih besar daripada uang recengan logam 50p, Peewee adalah hamster terkecil sejagad dengan berat kurang dari satu ons, hamster ini berhenti pertumbuhan ketika ia berusia tiga minggu.
6. Bunglon Terkecil Sejagad
www.haxims.blogspot.com
Brookesia Minima adalah spesies bunglon yang terkecil sejagad yang memiliki panjang setengah inci. Ditemukan di utara pantai barat Madagaskar.

Manta Ray / Manta Birostris

MESKI belum bisa mengalahkan hiu atau paus, Manta ray atau ikan pari manta adalah raksasa di “kelasnya”. Bayangkan saja, jika direntangkan lebar tubuhnya bisa mencapai 7,6 meter, sedangkan bobotnya mencapai 2,3 ton. Bentuk badannya yang pipih lebar dan bersayap menyerupai kelelawar, menjadikan mamalia tersebut mirip kelelawar raksasa dari dasar lautan.
Bahkan, karena di kedua sisi kepalanya terdapat “tanduk”, pari manta tampak juga seperti monster atau hantu air. Tak salah jika kemudian ia dijuluki sebagai “devil ray” alias ikan pari hantu. Julukan itu bukan hanya karena bertanduk, melainkan juga karena kepakan sayapnya menciptakan suasana bagaikan awan gelap pembawa kematian.
Namun, bagi para penyelam (diver), ikan pari manta adalah makhluk jinak dan bersahabat. Di balik bentuk tubuhnya yang gigantis dan menyeramkan, pari manta adalah objek penuh pesona. Mereka kerap dijumpai mendekati penyelam yang berada di habitatnya, untuk kemudian mau diajak bercengkerama di dalam air, berenang bersama, dan sesekali “unjuk kabisa” berakrobat di hadapan manusia.
Saat berenang, pari manta tampak bergerak anggun. Dikepakkannya sirip renang yang menyerupai sayap kelelawar itu secara perlahan seolah-olah ia terbang di kedalaman lautan. Kepakan sayapnya menimbulkan gelombang arus yang membuat penyelam terombang-ambing sehingga menciptakan sensasi tersendiri.
Menurut pengakuan sejumlah penyelam, berenang besama pari manta memberi pengalaman mengesankan yang sulit dilupakan. Tidaklah mengherankan bagi para penyelam, pari manta, salah satu ikan unik dan aneh (freaky fish) adalah salah satu daya tarik kegiatan penyelaman.
Hewan langka
Pari manta dikenal bersahabat dengan manusia dan ditemukan berenang bersama dengan para penyelam. Meski demikian, jika disentuh, ia akan menggerakkan membran atau selaput lendirnya, menyebabkan luka dan infeksi pada kulit manusia. Orang-orang suku Moche di Peru diketahui di masa lalu memuja laut dan seluruh binatang yang ada di dalamnya. Mereka sering melukiskan pari manta dalam berbagai karya seni. Manta digambarkan suka menerobos air ke udara saat berenang.
Nama Manta ray berasal dari bahasa Spanyol yang berarti selimut. Mungkin nama ini terinspirasi karena bentuk tubuh dengan sayapnya yang lebar sehingga mirip selimut yang bisa menutupi benda atau makhluk hidup di bawahnya. Selain Manta ray, ikan pari ini juga memiliki sejumlah nama, seperti Manta Atlantik, Manta Pasifik, Devil Ray, Devilfish, atau hanya cukup dengan menyebut manta “doang”. Sebagian orang hanya menyebutnya sebagai bagian dari keluarga pari penyengat (stingray).
Secara taksonomi, keberadaan pari manta masih dalam penyelidikan. Tiga spesies yang telah teridentifikasi adalah Manta birostris, Manta ehrenbergii, dan Manta ray. Akan tetapi, antara satu spesies dan spesies lainnya hampir mirip dan dua spesies terakhir populasinya terisolasi. Genus manta kadang-kadang ditempatkan sebagai famili Mobulidae, namun menurut FishBase, ditempatkan dalam famili Myliobatidae, satu famili dengan pari elang dan kerabatnya.
Pari manta (Manta birostris) tergolong spesies ikan terbesar di dunia dan termasuk langka. Mereka termasuk hewan yang suka menjelajah di sepanjang perairan laut tropis dan suka berada di coral reefs (batu karang). Sebagian besar pari manta berkulit hitam pada bagian punggung dan putih di bagian perutnya. Namun, ada di antaranya kulit punggungnya berwarna biru.
Matanya terletak di bagian bawah dari cuping-cuping yang bersifat cephalic di tiap sisi kepala. Tidak seperti ikan pari lainnya, mulut pari manta ditemukan berada pada bagian depan kepala. Ukuran mulutnya sangat lebar dan luas, bisa mencapai dua meter hingga tiga meter. Sementara untuk bernapas, pari manta punya lima pasang insang pada bagian bawah tubuhnya.
Ekor ikan pari manta lebih pendek dibandingkan dengan jenis ikan pari lainnya. Di bagian pangkal ekornya terdapat sirip renang berbentuk huruf D kecil. Sementara di bagian depan mulutnya terdapat sepasang sayap kecil yang bentuknya mirip tanduk. Dengan “tanduk istimewa” (dari sinilah kemudian ikan ini mendapat julukan “devil ray” atau pari setan) yang ada di kedua sisi kepalanya, menjadikan pari manta sebagai objek bawah laut yang paling dicari para penyelam.
Struktur unik ini sebenarnya berasal dari sirip-sirip yang ada di pada bagian dada. Menurut para ahli, selama perkembangan embrio, bagian sirip tersebut terpecah dan bergerak maju, hingga ke dekat mulutnya. Tanduknya yang fleksibel digunakan untuk mengarahkan plankton, ikan kecil, dan air ke dalam mulutnya yang yang sangat lebar dan luas. Pari manta bisa menggulung tubuhnya untuk mengurangi hambatan yang bisa menghalanginya berenang.
Pari manta sudah mengalami perkembangan dan evolusi dari nenek moyang mereka dan beradaptasi dengan lingkungannya. Hal itulah yang memungkinkan pari manta bisa tumbuh dalam ukuran yang lebih besar daripada spesies ikan pari lainnya. Karena gaya hidup mereka yang pelagik–memakan plankton–beberapa karakteristik dari nenek moyang mereka sudah mengalami penurunan. Contohnya, giginya hanya berupa barisan kecil gigi sisa di rahang yang lebih rendah, hampir tersembunyi di bawah kulit.
Manta merupakan hewan air yang memakan plankton, larva ikan, dan sejenisnya. Ia biasa hidup di perairan yang berarus deras. Cara makannya adalah dengan membiarkan air masuk melalui lubang mulutnya, lalu keluar melalui lubang insangnya. Saat itu pada bidang-bidang yang ada di insang, air akan tersaring sehingga plankton atau larva ikan akan menempel pada bidang tersebut, kemudian dijadikannya santapan. Ubur-ubur yang terseret arus deras termasuk santapan lezat bagi manta. Hiu raksasa adalah musuh utamanya. Meski demikian, pari manta membentuk hubungan simbiosis yang saling menguntungkan dengan ikan-ikan kecil.
Di Indonesia
Beberapa perairan di Indonesia termasuk wilayah “jelajah” pari manta. Di beberapa perairan seperti Kepulauan Berau di Kalimantan Timur, Perairan Raja Ampat di Papua, atau Taman Nasional Wakatobi di Sulawesi Tenggara adalah perairan yang dikenal banyak dihuni ikan pari manta. Di kawasan perairan tersebut, pari manta menjadi objek primadona bagi para wisawatan, khususnya penyelam.
Meski termasuk mamalia purba, pari manta belum termasuk satwa laut di Indonesia yang dilindungi. Padahal, jumlah populasinya semakin merosot. Tim konservasi The Nature Conservacy (TNC) dan World Wild Fund (WWF) mencatat, dalam dua tahun terakhir rata-rata kemunculan kawanan pari manta hanya berkisar 10 ekor. Kebiasaan para nelayan menangkap ikan dengan pukat menjadi salah satu penyebab semakin kurangnya populasi pari manta.
Tentu kita berharap agar pari manta, salah satu makhluk ciptaan Tuhan, jangan sampai mengalami kepunahan. Alangkah kasihannya anak cucu kita kelak, mereka hanya mengetahhui makhluk unik dan khas bernama pari manta hanya dari dongeng dan catatan sejarah atau sisa tubuh mereka yang sudah diformalin di museum.

Whale Shark (Hiu Geger Lintang)

Whale Shark, Rhincodon Typus adalah hiu terbesar di dunia. Meskipun besar, hiu paus (Whale Shark) ini juga bukanlah pemangsa, mereka adalah hiu yang bergerak lambat yang hanya memakan phytoplankton atau binatang yang sangat kecil yang hidup di laut.

Hiu paus ini dapat hidup sehingga 41 kaki dan berat hingga 15 ton. Hiu paus ini sama seperti hiu lainnya yang dapat di temukan di sekitar laut khatulistiwa dan perairan yang hangat. Spesies yang berasal dari kehidupan 60 juta tahun yang lalu ini mampu hidup hingga 70 tahun lamanya.

Penyu Raksasa

Banyak yang belum mengetahui bahwa di Indonesia memiliki tempat peneluran penyu yang terbesar di Dunia, kenapa dikatakan sebagai tempat peneluran terbessar didunia?? karena tempat ini memiliki garis pantai terpanjang dan paling panyak dikunjungi oleh berbagai jenis penyu yang ada di Dunia sampai saat ini. Ironisnya sudah banyak turis dan peneliti asing datang berkunjung ketempat ini namun masyarakat kita sendiri belum banyak yg mengetahuinya.

Nah tempat ini bernama pantai Jamursba Medi yang terletak di Kawasan Papua Barat kabupaten Tambrauw, tepatnya di daerah kepala burung Papua.

Yang menjadikan tempat ini sangat istimewa adalah jumlah penyu yang datang untuk bertelur sangat banyak tiap tahunya, dan juga yang paling mendominasi adalah jenis Penyu Belimbing(Dermochelys coriacea) yang juga merupakan Penyu terbesar dari 7 jenis yang da di Dunia.

Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 – 73 hari.

Tidak banyak informasi yang diketahui tentang Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) karena hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk bermigrasi menjelajahi samudera.

Namun penelitian menggunakan satelit transmisi oleh WWF Indonesia di Jamursba Medi, Papua, bekerjasama dengan lembaga penelitian internasional NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), belum lama ini berhasil menyibak rahasia pengembaraan hewan langka tersebut.

Sepuluh ekor Penyu Belimbing yang dipasangi transmitter dipunggungnya dan dilepas dari pantai Jamursba Medi, Papua, pada Juli 2003 lalu, menurut pantauan satelit, kini salah satunya berada di Pantai Barat Amerika Serikat, tepatnya di Monteray Bay, sekitar 25 km dari Golden Bridge, San Fransisco.

Ini berarti, Penyu Belimbing tersebut telah mengarungi Samudera Pasifik dan menempuh jarak sekitar 6000 mil dari habitat asalnya di Papua dalam jangka waktu lebih dari satu tahun!

Dibandingkan penyu lainnya, Penyu Belimbing memiliki tingkat migrasi paling tinggi. Kenyataan bahwa mereka gemar bermigrasi melewati kawasan yang produktif untuk kegiatan perikanan terutama di Pasifik, membuat jenis ini beresiko tinggi tertangkap rawai nelayan tradisional maupun kapal ikan besar.

Nah, dengan menggunakan teknologi satelit, para peneliti dapat mengidentifikasi jalur migrasi Penyu Belimbing, yang hasilnya bisa dipakai sebagai acuan untuk menyusun langkah-langkah perlindungan wilayah jelajah (home range) jenis penyu tertua itu.

Penyu Belimbing – disebut juga Leatherbacks – dilindungi sebagaimana diatur dalam CITES (Convention on International Trade of Endangered Species) Appendix 1. Saat ini diperkirakan hanya sekitar 2.300 penyu betina dewasa yang tersisa diseluruh Samudera Pasifik.

Jamursba Medi, yang terletak di pantai utara Kepala Burung Papua merupakan salah satu tempat peteluran utama bagi Penyu Belimbing. Hanya ada dua tempat yang masih menyimpan stok Penyu Belimbing di Samudera Pasifik, yaitu di Pasifik Utara termasuk di pantai-pantai Meksiko, Nikaragua, dan Costa Rica, dan di Pasifik Barat yakni di pantai-pantai Kepulauan Solomon, Vanuatu, Malaysia dan Papua (termasuk juga Papua Nugini).

Dengan semakin menurunnya populasi penyu belimbing di daerah peteluran di Malaysia dan Meksiko, Papua otomatis menjadi daerah peteluran terakhir sekaligus terbesar yang tersisa di seluruh Samudera Pasifik.

Hewan unik

Misteri kehidupan Penyu Belimbing sebenarnya telah lama menarik minat para peneliti dunia. Semula, para ilmuwan menduga sebagian besar Penyu Belimbing yang ditemukan menepi di pantai California atau yang tertangkap rawai nelayan di Hawaii, berasal dari Pasifik Utara atau tepatnya dari pantai peteluran Meksiko. Akan tetapi analisis DNA menunjukkan bahwa penyu-penyu tersebut berasal dari Pasifik Barat, yaitu dari pantai peteluran di Papua dan sekitarnya.

Hewan yang beratnya bisa mencapai 600-900 kg, dan merupakan salah satu reptil terbesar itu memang menyimpan rahasia pengembaraan yang unik. Dimulai dari tukik yang baru menetas dengan berat kurang dari 200 gram, penyu kecil tersebut berenang ke laut lepas dan baru kembali ke darat setelah berat badannya mencapai sekitar 600 kilogram, hanya untuk bertelur! Bayangkan, betapa panjang masa yang dihabiskannya menjelajahi laut.

Hanya penyu betina dewasa yang ’mampir’ kedaratan selama sekitar tiga jam dalam setiap masa bertelur untuk meletakkan 60-120 telurnya, lalu kembali ke laut, dan naik lagi ke daratan untuk bertelur 2-3 tahun kemudian.

Sayangnya, dari 1.000 telur Penyu Belimbing yang menetas, hanya satu hingga lima ekor yang hidup menjadi dewasa hingga puluhan tahun. Selain akibat aktivitas nelayan – yang menangkap penyu sebagai tangkapan samping – populasi Penyu Belimbing terancam serius oleh perburuan liar untuk mendapatkan telur, daging, dan cangkangnya. Begitu juga karena pencemaran laut; terutama oleh sampah plastik yang sering tertelan penyu karena disangka ubur ubur kesukaannya.

Sebagai pemangsa utama ubur-ubur, Penyu Belimbing menjadi pengatur keseimbangan populasi ubur-ubur di alam. Berlebihnya populasi ubur-ubur dapat menyebabkan penurunan populasi ikan, khususnya ikan-ikan dengan nilai komersial yang laku dipasaran, dikarenakan ubur-ubur adalah pemangsa utama larva ikan tersebut. Dengan demikian, pelestarian Penyu Belimbing memberikan manfaat bagi ikan, manusia dan industri nelayan.

Coba kalian bayangin aja klo penyu sebesar ini harus musnah, sayang sekali kan…. apalagi penyu ini merupakan penyu bagi kebanggan negara kita.

oleh karena itu marilah kita bersama2 melestarikan penyu yang ada di indonesia, demi kelestarian alam kita yang lestari…