Manta Ray / Manta Birostris

MESKI belum bisa mengalahkan hiu atau paus, Manta ray atau ikan pari manta adalah raksasa di “kelasnya”. Bayangkan saja, jika direntangkan lebar tubuhnya bisa mencapai 7,6 meter, sedangkan bobotnya mencapai 2,3 ton. Bentuk badannya yang pipih lebar dan bersayap menyerupai kelelawar, menjadikan mamalia tersebut mirip kelelawar raksasa dari dasar lautan.
Bahkan, karena di kedua sisi kepalanya terdapat “tanduk”, pari manta tampak juga seperti monster atau hantu air. Tak salah jika kemudian ia dijuluki sebagai “devil ray” alias ikan pari hantu. Julukan itu bukan hanya karena bertanduk, melainkan juga karena kepakan sayapnya menciptakan suasana bagaikan awan gelap pembawa kematian.
Namun, bagi para penyelam (diver), ikan pari manta adalah makhluk jinak dan bersahabat. Di balik bentuk tubuhnya yang gigantis dan menyeramkan, pari manta adalah objek penuh pesona. Mereka kerap dijumpai mendekati penyelam yang berada di habitatnya, untuk kemudian mau diajak bercengkerama di dalam air, berenang bersama, dan sesekali “unjuk kabisa” berakrobat di hadapan manusia.
Saat berenang, pari manta tampak bergerak anggun. Dikepakkannya sirip renang yang menyerupai sayap kelelawar itu secara perlahan seolah-olah ia terbang di kedalaman lautan. Kepakan sayapnya menimbulkan gelombang arus yang membuat penyelam terombang-ambing sehingga menciptakan sensasi tersendiri.
Menurut pengakuan sejumlah penyelam, berenang besama pari manta memberi pengalaman mengesankan yang sulit dilupakan. Tidaklah mengherankan bagi para penyelam, pari manta, salah satu ikan unik dan aneh (freaky fish) adalah salah satu daya tarik kegiatan penyelaman.
Hewan langka
Pari manta dikenal bersahabat dengan manusia dan ditemukan berenang bersama dengan para penyelam. Meski demikian, jika disentuh, ia akan menggerakkan membran atau selaput lendirnya, menyebabkan luka dan infeksi pada kulit manusia. Orang-orang suku Moche di Peru diketahui di masa lalu memuja laut dan seluruh binatang yang ada di dalamnya. Mereka sering melukiskan pari manta dalam berbagai karya seni. Manta digambarkan suka menerobos air ke udara saat berenang.
Nama Manta ray berasal dari bahasa Spanyol yang berarti selimut. Mungkin nama ini terinspirasi karena bentuk tubuh dengan sayapnya yang lebar sehingga mirip selimut yang bisa menutupi benda atau makhluk hidup di bawahnya. Selain Manta ray, ikan pari ini juga memiliki sejumlah nama, seperti Manta Atlantik, Manta Pasifik, Devil Ray, Devilfish, atau hanya cukup dengan menyebut manta “doang”. Sebagian orang hanya menyebutnya sebagai bagian dari keluarga pari penyengat (stingray).
Secara taksonomi, keberadaan pari manta masih dalam penyelidikan. Tiga spesies yang telah teridentifikasi adalah Manta birostris, Manta ehrenbergii, dan Manta ray. Akan tetapi, antara satu spesies dan spesies lainnya hampir mirip dan dua spesies terakhir populasinya terisolasi. Genus manta kadang-kadang ditempatkan sebagai famili Mobulidae, namun menurut FishBase, ditempatkan dalam famili Myliobatidae, satu famili dengan pari elang dan kerabatnya.
Pari manta (Manta birostris) tergolong spesies ikan terbesar di dunia dan termasuk langka. Mereka termasuk hewan yang suka menjelajah di sepanjang perairan laut tropis dan suka berada di coral reefs (batu karang). Sebagian besar pari manta berkulit hitam pada bagian punggung dan putih di bagian perutnya. Namun, ada di antaranya kulit punggungnya berwarna biru.
Matanya terletak di bagian bawah dari cuping-cuping yang bersifat cephalic di tiap sisi kepala. Tidak seperti ikan pari lainnya, mulut pari manta ditemukan berada pada bagian depan kepala. Ukuran mulutnya sangat lebar dan luas, bisa mencapai dua meter hingga tiga meter. Sementara untuk bernapas, pari manta punya lima pasang insang pada bagian bawah tubuhnya.
Ekor ikan pari manta lebih pendek dibandingkan dengan jenis ikan pari lainnya. Di bagian pangkal ekornya terdapat sirip renang berbentuk huruf D kecil. Sementara di bagian depan mulutnya terdapat sepasang sayap kecil yang bentuknya mirip tanduk. Dengan “tanduk istimewa” (dari sinilah kemudian ikan ini mendapat julukan “devil ray” atau pari setan) yang ada di kedua sisi kepalanya, menjadikan pari manta sebagai objek bawah laut yang paling dicari para penyelam.
Struktur unik ini sebenarnya berasal dari sirip-sirip yang ada di pada bagian dada. Menurut para ahli, selama perkembangan embrio, bagian sirip tersebut terpecah dan bergerak maju, hingga ke dekat mulutnya. Tanduknya yang fleksibel digunakan untuk mengarahkan plankton, ikan kecil, dan air ke dalam mulutnya yang yang sangat lebar dan luas. Pari manta bisa menggulung tubuhnya untuk mengurangi hambatan yang bisa menghalanginya berenang.
Pari manta sudah mengalami perkembangan dan evolusi dari nenek moyang mereka dan beradaptasi dengan lingkungannya. Hal itulah yang memungkinkan pari manta bisa tumbuh dalam ukuran yang lebih besar daripada spesies ikan pari lainnya. Karena gaya hidup mereka yang pelagik–memakan plankton–beberapa karakteristik dari nenek moyang mereka sudah mengalami penurunan. Contohnya, giginya hanya berupa barisan kecil gigi sisa di rahang yang lebih rendah, hampir tersembunyi di bawah kulit.
Manta merupakan hewan air yang memakan plankton, larva ikan, dan sejenisnya. Ia biasa hidup di perairan yang berarus deras. Cara makannya adalah dengan membiarkan air masuk melalui lubang mulutnya, lalu keluar melalui lubang insangnya. Saat itu pada bidang-bidang yang ada di insang, air akan tersaring sehingga plankton atau larva ikan akan menempel pada bidang tersebut, kemudian dijadikannya santapan. Ubur-ubur yang terseret arus deras termasuk santapan lezat bagi manta. Hiu raksasa adalah musuh utamanya. Meski demikian, pari manta membentuk hubungan simbiosis yang saling menguntungkan dengan ikan-ikan kecil.
Di Indonesia
Beberapa perairan di Indonesia termasuk wilayah “jelajah” pari manta. Di beberapa perairan seperti Kepulauan Berau di Kalimantan Timur, Perairan Raja Ampat di Papua, atau Taman Nasional Wakatobi di Sulawesi Tenggara adalah perairan yang dikenal banyak dihuni ikan pari manta. Di kawasan perairan tersebut, pari manta menjadi objek primadona bagi para wisawatan, khususnya penyelam.
Meski termasuk mamalia purba, pari manta belum termasuk satwa laut di Indonesia yang dilindungi. Padahal, jumlah populasinya semakin merosot. Tim konservasi The Nature Conservacy (TNC) dan World Wild Fund (WWF) mencatat, dalam dua tahun terakhir rata-rata kemunculan kawanan pari manta hanya berkisar 10 ekor. Kebiasaan para nelayan menangkap ikan dengan pukat menjadi salah satu penyebab semakin kurangnya populasi pari manta.
Tentu kita berharap agar pari manta, salah satu makhluk ciptaan Tuhan, jangan sampai mengalami kepunahan. Alangkah kasihannya anak cucu kita kelak, mereka hanya mengetahhui makhluk unik dan khas bernama pari manta hanya dari dongeng dan catatan sejarah atau sisa tubuh mereka yang sudah diformalin di museum.
Iklan

Whale Shark (Hiu Geger Lintang)

Whale Shark, Rhincodon Typus adalah hiu terbesar di dunia. Meskipun besar, hiu paus (Whale Shark) ini juga bukanlah pemangsa, mereka adalah hiu yang bergerak lambat yang hanya memakan phytoplankton atau binatang yang sangat kecil yang hidup di laut.

Hiu paus ini dapat hidup sehingga 41 kaki dan berat hingga 15 ton. Hiu paus ini sama seperti hiu lainnya yang dapat di temukan di sekitar laut khatulistiwa dan perairan yang hangat. Spesies yang berasal dari kehidupan 60 juta tahun yang lalu ini mampu hidup hingga 70 tahun lamanya.

Penyu Raksasa

Banyak yang belum mengetahui bahwa di Indonesia memiliki tempat peneluran penyu yang terbesar di Dunia, kenapa dikatakan sebagai tempat peneluran terbessar didunia?? karena tempat ini memiliki garis pantai terpanjang dan paling panyak dikunjungi oleh berbagai jenis penyu yang ada di Dunia sampai saat ini. Ironisnya sudah banyak turis dan peneliti asing datang berkunjung ketempat ini namun masyarakat kita sendiri belum banyak yg mengetahuinya.

Nah tempat ini bernama pantai Jamursba Medi yang terletak di Kawasan Papua Barat kabupaten Tambrauw, tepatnya di daerah kepala burung Papua.

Yang menjadikan tempat ini sangat istimewa adalah jumlah penyu yang datang untuk bertelur sangat banyak tiap tahunya, dan juga yang paling mendominasi adalah jenis Penyu Belimbing(Dermochelys coriacea) yang juga merupakan Penyu terbesar dari 7 jenis yang da di Dunia.

Penyu memiliki sepasang tungkai depan yang berupa kaki pendayung yang memberinya ketangkasan berenang di dalam air. Walaupun seumur hidupnya berkelana di dalam air, sesekali hewan kelompok vertebrata, kelas reptilia itu tetap harus sesekali naik ke permukaan air untuk mengambil napas. Itu karena penyu bernapas dengan paru-paru. Penyu pada umumnya bermigrasi dengan jarak yang cukup jauh dengan waktu yang tidak terlalu lama. Jarak 3.000 kilometer dapat ditempuh 58 – 73 hari.

Tidak banyak informasi yang diketahui tentang Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) karena hampir seluruh hidupnya dihabiskan untuk bermigrasi menjelajahi samudera.

Namun penelitian menggunakan satelit transmisi oleh WWF Indonesia di Jamursba Medi, Papua, bekerjasama dengan lembaga penelitian internasional NOAA (National Oceanic and Atmospheric Administration), belum lama ini berhasil menyibak rahasia pengembaraan hewan langka tersebut.

Sepuluh ekor Penyu Belimbing yang dipasangi transmitter dipunggungnya dan dilepas dari pantai Jamursba Medi, Papua, pada Juli 2003 lalu, menurut pantauan satelit, kini salah satunya berada di Pantai Barat Amerika Serikat, tepatnya di Monteray Bay, sekitar 25 km dari Golden Bridge, San Fransisco.

Ini berarti, Penyu Belimbing tersebut telah mengarungi Samudera Pasifik dan menempuh jarak sekitar 6000 mil dari habitat asalnya di Papua dalam jangka waktu lebih dari satu tahun!

Dibandingkan penyu lainnya, Penyu Belimbing memiliki tingkat migrasi paling tinggi. Kenyataan bahwa mereka gemar bermigrasi melewati kawasan yang produktif untuk kegiatan perikanan terutama di Pasifik, membuat jenis ini beresiko tinggi tertangkap rawai nelayan tradisional maupun kapal ikan besar.

Nah, dengan menggunakan teknologi satelit, para peneliti dapat mengidentifikasi jalur migrasi Penyu Belimbing, yang hasilnya bisa dipakai sebagai acuan untuk menyusun langkah-langkah perlindungan wilayah jelajah (home range) jenis penyu tertua itu.

Penyu Belimbing – disebut juga Leatherbacks – dilindungi sebagaimana diatur dalam CITES (Convention on International Trade of Endangered Species) Appendix 1. Saat ini diperkirakan hanya sekitar 2.300 penyu betina dewasa yang tersisa diseluruh Samudera Pasifik.

Jamursba Medi, yang terletak di pantai utara Kepala Burung Papua merupakan salah satu tempat peteluran utama bagi Penyu Belimbing. Hanya ada dua tempat yang masih menyimpan stok Penyu Belimbing di Samudera Pasifik, yaitu di Pasifik Utara termasuk di pantai-pantai Meksiko, Nikaragua, dan Costa Rica, dan di Pasifik Barat yakni di pantai-pantai Kepulauan Solomon, Vanuatu, Malaysia dan Papua (termasuk juga Papua Nugini).

Dengan semakin menurunnya populasi penyu belimbing di daerah peteluran di Malaysia dan Meksiko, Papua otomatis menjadi daerah peteluran terakhir sekaligus terbesar yang tersisa di seluruh Samudera Pasifik.

Hewan unik

Misteri kehidupan Penyu Belimbing sebenarnya telah lama menarik minat para peneliti dunia. Semula, para ilmuwan menduga sebagian besar Penyu Belimbing yang ditemukan menepi di pantai California atau yang tertangkap rawai nelayan di Hawaii, berasal dari Pasifik Utara atau tepatnya dari pantai peteluran Meksiko. Akan tetapi analisis DNA menunjukkan bahwa penyu-penyu tersebut berasal dari Pasifik Barat, yaitu dari pantai peteluran di Papua dan sekitarnya.

Hewan yang beratnya bisa mencapai 600-900 kg, dan merupakan salah satu reptil terbesar itu memang menyimpan rahasia pengembaraan yang unik. Dimulai dari tukik yang baru menetas dengan berat kurang dari 200 gram, penyu kecil tersebut berenang ke laut lepas dan baru kembali ke darat setelah berat badannya mencapai sekitar 600 kilogram, hanya untuk bertelur! Bayangkan, betapa panjang masa yang dihabiskannya menjelajahi laut.

Hanya penyu betina dewasa yang ’mampir’ kedaratan selama sekitar tiga jam dalam setiap masa bertelur untuk meletakkan 60-120 telurnya, lalu kembali ke laut, dan naik lagi ke daratan untuk bertelur 2-3 tahun kemudian.

Sayangnya, dari 1.000 telur Penyu Belimbing yang menetas, hanya satu hingga lima ekor yang hidup menjadi dewasa hingga puluhan tahun. Selain akibat aktivitas nelayan – yang menangkap penyu sebagai tangkapan samping – populasi Penyu Belimbing terancam serius oleh perburuan liar untuk mendapatkan telur, daging, dan cangkangnya. Begitu juga karena pencemaran laut; terutama oleh sampah plastik yang sering tertelan penyu karena disangka ubur ubur kesukaannya.

Sebagai pemangsa utama ubur-ubur, Penyu Belimbing menjadi pengatur keseimbangan populasi ubur-ubur di alam. Berlebihnya populasi ubur-ubur dapat menyebabkan penurunan populasi ikan, khususnya ikan-ikan dengan nilai komersial yang laku dipasaran, dikarenakan ubur-ubur adalah pemangsa utama larva ikan tersebut. Dengan demikian, pelestarian Penyu Belimbing memberikan manfaat bagi ikan, manusia dan industri nelayan.

Coba kalian bayangin aja klo penyu sebesar ini harus musnah, sayang sekali kan…. apalagi penyu ini merupakan penyu bagi kebanggan negara kita.

oleh karena itu marilah kita bersama2 melestarikan penyu yang ada di indonesia, demi kelestarian alam kita yang lestari…

Giant JellyFish (Ubur-Ubur Raksasa)

They poison fish, sting humans and even attack nuclear power stations. They are 6 feet wide, up to 440 pounds in weight, and they are pink, slimy and repellent. They sound like rubber monsters from a Godzilla film, but they are Echizen kurage, or Nomura’s jellyfish, an authentic horror of the deep about to launch its latest assault on Japan.

Four years after they last caused havoc, and for reasons that remain mysterious, an armada of the gelatinous giants is gathering in the Yellow Sea off China and the Korean peninsula. It is expected to drift into the Sea of Japan in the next few months.

“The arrival is inevitable,” Professor Shinichi Ue at Hiroshima University, told the Yomiuri newspaper. “A huge jellyfish typhoon will hit the country.”

In 2005, fishermen looking for anchovies, salmon and yellowtail began finding huge numbers of the jellyfish in their nets. When the Nomuras grow larger than a metre in diameter, half a dozen of them can destroy a fishing net. The fish caught alongside them are poisoned and covered in slime and rendered unsaleable.

So serious was the situation that salmon boats in northern Japan stopped going out, and in some places fishermen lost 80 per cent of their income. Even staff at some of the nuclear power plants along the Japan Sea coast found that the jellyfish got sucked into the pumps which take in sea water to cool the reactors.

No one is sure about the reasons for the slimy plague. One theory is that climate change is heating up the sea water and encouraging them to breed. Another blames effluent from rivers in China, which carries nutrients on which the jellyfish feed. Another blames over-fishing of other species, leaving a surfeit of plankton for the Echizen kurage to feed on.

Giant Herring

PEJALAN KAKI di pantai Swedia, baru-baru ini menemukan ikan herring raksasa yang memiliki panjang sekitar 12 meter (39 kaki) dan diperkirakan hidup sekitar 130 tahun yang lalu. Penemuan tersebut membuat orang-orang yang melihatnya terkejut dan berpikir tentang mitos-mitos tentang ikan seperti legenda ular laut kuno dan mitos naga laut. Bahkan mereka juga memperbandingkan dengan penampakan ikan raksasa yang ada di Jepang, yaitu apabila menemukan ikan raksasa di air yang dangkal dianggap sebagai pertanda buruk sebelum gempa bumi.

Ikan raksasa itu ditemukan oleh Kurt Ove Eriksson di desa kecil nelayan, Bovallstrand, Swedia Barat, sekitar 90 kilometer dari perbatasan Norwegia. Ikan ini juga sering disebut dengan oarfish raksasa, tapi untuk ukuran 12 meter seperti yang ditemukan oleh Kurt, sangat jarang sekali. Ikan Oarfish raksasa itu memiliki berat hingga 300 kilogram (660 pon). Biasanya ikan jenis ini membuat rumah di perairan yang lebih hangat dan menghabiskan sebagian besar waktu mereka jauh di bawah permukaan laut, antara 200 dan 1.000 meter (650 ke 3.280 kaki) bawah.

“Pada awalnya, kami kira itu sepotong raksasa dari plastik,” kata Kurt Ove Eriksson, yang menemukan ikan, seperti dilansir dari surat kabar Svenska Dagbladet. “Tapi kemudian kami terkejut ketika melihatnya langsung.”

Ikan itu kini dibawa ke museum museum House of Sea di Lysekil. “Tidak bisa dipercaya, saya masih belum bisa percaya,” kata seorang karyawan museum.

Meskipun ikan oarfish raksasa sangat langka ditemukan di pantai Inggris pada bulan Februari 2009, namun pihak museum juga mengakui pada tahun 1879 pernah juga ditemukan raja hearing. Kini ikan tersebut menjadi koleksi tambahan pihak museum, untuk jenis monster laut, yang rencananya akan dipamerkan akhir tahun ini.

Ikan herring raksasa dengan panjang 3,5 meter

Ikan ini termasuk ke dalam kategori langka. Meskipun dapat ditemukan di semua lautan beriklim tropis namun jarang terlihat. Saking langkanya sehingga ikan ini tidak pernah tertangkap kamera dalam keadaan hidup hingga tahun 2008 dan baru di temukan pada tahun 2009.

Oarfish termasuk ke dalam family Regalecidae yang memiliki empat spesies. Salah satu spesies, Regalecus Glesne, yang di foto terakhir itu gan yang panjang, pernah masuk ke dalam Guinnes Book of World Record karena pernah ditemukan seekor yang hidup dengan panjang tubuh hingga 11 meter (36 kaki).

Ikan ini memiliki sirip tunggal berwarna merah dan termasuk ikan yang penyendiri. Namun ketika ikan ini sedang sakit atau sekarat, sepertinya sang penyendiri ini tidak ingin mati dalam kesepian. Jadi ia naik ke atas permukaan laut dan bertahan disitu hingga mati. Mungkin untuk menarik perhatian para pelaut, atau hanya ingin memandang matahari untuk terakhir kalinya.

Para pelaut masa lampau mungkin telah melihat ikan ini di permukaan dan mempersepsikannya sebagai monster laut. Misalnya, pada tahun 1860, ketika seekor Oarfish sepanjang 5 meter terdampar di pantai Bermuda, para penduduk segera mengkaitkannya dengan monster laut yang legendaris.

Mereka memakan ikan yang sangat kecil, udang, dan invertebrata lain dan menyaring makananya melalui mulut ompong. Oarfishes memiliki tubuh keperakan, puncak merah di kepala mereka.

Mola-Mola (Sunfish)

Mola-mola atau nama lainnya “sunfish”, merupakan satu makhluk terbesar dan paling aneh bentuknya di laut. Mola-mola dapat dijumpai di seluruh samudra di dunia. Bahkan di perairan Indonesia sudah kbeberapa kali ditemukan si Mola-mola ini. Saat ditemukan disuatu lautan, biasanya mereka sedang dalam masa bermigrasi. Tak banyak informasi yang diketahui tentang ikan besar yang ramah ini.

Para peneliti dari Pusat Pelagis Univesitas New Hampshire tengah mempelajari perilaku Mola-mola dengan menggunakan transmitter radio yang didesain secara khusus sehingga mampu mengambang di permukaan air dan mengirimkan data lewat satelit. Yang mengejutkan, data yang dikumpulkan tentang gerakan Mola-mola menunjukkan bahwa Mola-mola di Atlantik utara bermigrasi sedikitnya 3000 kilometer dan dapat menyelam sedalam 800 meter. Mereka bermigrasi ke selatan pada waktu musim semi, terkadang dengan mengikuti tepian dasar benua dan bepergian sampai sejauh teluk Meksiko.

Mola-mola dikenal sebagai ikan yang mampu mengambang dalam waktu lama di permukaan air. Namun berdasarkan penelitian, Mola-mola mampu bermigrasi untuk periode yang cukup panjang di kedalaman samudra. Sebuah penelitian menunjukkan bahwa mereka mampu berenang di bawah arus yang mengalir ke utara ketika bermigrasi ke selatan. Makanan Mola-mola yang paling utama adalah ubur-ubur yang biasa ditemukan di sekitar penyu belimbing. Mola-mola juga menyantap zooplankton, cumi-cumi, bintang laut, belut laut, dan rumput laut.

Berat seekor Mola-mola dewasa bisa mencapai 2300 kilogram dan besarnya sekitar 4,3 meter. Mola-mola dikenal dengan bentuknya yang unik, yaitu memilki kepala raksasa, sirip yang panjang dan tidak memiliki ekor. Sebenarnya mereka memiliki ekor berupa “clavus” yaitu pucuk ekor yang bergelombang dan lebar yang sebenarnya tak berguna untuk berenang, tak seperti layaknya ikan pada umumnya. Kulit mereka dilapisi lendir yang menjadi tempat hidup beberapa jenis parasit.

Cumi2 Raksasa

Untuk pertama kalinya, seekor cumi-cumi raksasa (Architeuthis) berhasil ditangkap hidup-hidup dan sempat direkam aktivitasnya. Hewan sepanjang 7

meter itu ditangkap di dekat Pulau Chachijima yang berada sekitar 1000 kilometer sebelah tenggara Tokyo, Jepang awal bulan Desember.

Sejak bulan September, para peneliti dari Departemen Zoologi, Museum Sains Nasional Jepang telah memulai mencari jejak cumi-cumi raksasa dengan mengikuti predatornya, yakni paus sperma. Selama September hingga Desember, paus sperma memang bergerak di sekitar Kepulauan Ogasawara untuk mencari sumber makanan.

Untuk memancingnya keluar, para peneliti menggunakan cumi-cumi kecil yang dikaitkan di ujung kail. Para peneliti yang dipimpin Tsunemi Kubodera akhirnya

mendapatkan seekor cumi-cumi raksasa yang berwarna coklat kekuningan dan berhasil merekamnya sejak muncul ke permukaan hingga diangkat ke atas kapal pada 4 Desember.

Kubodera mengatakan, hewan tersebut sempat melakukan perlawanan sehingga sulit dibawa ke atas kapal. Bahkan karena luka-luka yang dialaminya selama ditangkap membuatnya tidak bertahan hidup beberapa lama kemudian.

Ia mungkin termasuk cumi-cumi raksasa yang masih muda. Pasalnya, sebagai hewan tak bertulang belakang terbesar, cumi-cumi raksasa dewasa bisa tumbuh

mencapai 18 meter. Namun, karena hidupnya terpencil hingga ratusan meter di dasar laut, keberadaannya di alam masih belum banyak dipelajari.

“Tidak seorang pun pernah melihatnya langsung dalam keadaan hidup kecuali para nelayan,” ujar Kubodera saat menunjukkan rekamannya Jumat (22/12). Ia mengatakan, ini mungkin rekaman video pertama cumi-cumi raksasa hidup yang pernah dibuat.

Cumi-cumi raksasa lebih banyak dikenal sebagai mitos sebagai penyerang yang memiliki tentakel beracun. Tim peneliti Jepang telah memulai ekspedisi untuk memburu cumi-cumi raksasa sejak tiga tahun lalu. Mereka berhasil membuat foto pertama cumi-cumi yang hidup di dasar laut menggunakan kamera bawah laut

pada 2005.

Dari foto-foto tersebut, para peneliti bisa lebih memahami bahwa cumi-cumi raksasa bergerak lebih lincah dari dugaan semula. Mereka juga memanfaatkan tentakelnya sejak awal untuk menangkap mangsanya.

“Sekarang kami tahun di mana harus menangkapnya, kami yakin dapat mempelajarinya lebih banyak lagi ke depan,” ujar Kubodera.

Paus Biru

Paus Biru (Balaenoptera musculus) adalah mamalia laut yang menyertai subordo Paus Balin.[2] Panjangnya mencapai lebih dari 33 meter dan massa 181 ton metrik atau lebih, hal ini dipercaya menjadi hewan terbesar yang dimiliki sepanjang hidup[3][4] meskipun beberapa penemuan dinosaurus secara terpisah seperti Amphicoelias fragillimus kolosal mungkin tantangan kepercayaan yang bertahan lama.

Panjang dan langsing, tubuh Paus Biru dapat bervariasi keteduhan kelabu kebiruannya.[2] Ada sedikitnya tiga perbedaan subspesies: B. m. musculus Atlantik utara dan Pasifik utara, B. m. intermedia, Samudra selatan dan B. m. brevicauda (juga dikenal sebagai Paus Biru Kerdil) ditemukan di Samudra Hindia dan Samudra Pasifik Selatan. B. m. indica ditemukan di Samudra Hindia, mungkin menjadi subspesies lain. Seperti dengan paus balin lain, pola makannya berisi secara pokok crustacea kecil yang dikenal sebagai krill, yang sama baiknya dengan ikan kecil dan cumi-cumi.

Paus Biru sangat berlimpah di hampir seluruh samudra hingga memasuki abad 20. Selama lebih dari 40 tahun paus-paus tersebut diburu sampai mendekati kepunahan dengan adanya perburuan paus hingga dilindungi oleh komunitas internasional pada tahun 1966. Sebuah laporan tahun 2002 memperkirakan ada 5.000 sampai 12.000 Paus Biru di seluruh dunia[5] yang lokasinya terbagi dalam sedikitnya lima kelompok. Kebanyakan riset saat ini memberi perhatian terhadap subspesies Kerdil yang mungkin dibawah perkiraan.[6] Sebelum perburuan paus, populasi terbesar berada di Antartika, dengan jumlah diperkirakan 239.000 (mencapai 202.000 hingga 311.000).[7] Sisanya yang hanya sebagian kecil (sekitar 2.000) mengkonsentrasikan di setiap kelompok Pasifik timur laut, Antartika, dan Samudra Hindia. Ada dua lebih kelompok di Samudra Atlantik utara dan sedikitnya dua di Belahan Selatan.